blog bundanya lanang
Random header image... Refresh for more!

Wisata Kuliner Yang Tergusur

Baru saja saya dan suami pulang dari makan malam. Kebetulan suami baru menemukan satu tempat makan dan di situ ada satu menu yang bikin kami penasaran, namanya Ikan Asap Santan. Dengan penuh semangat dan hati yang girang kami menuju tempat itu.

Ikan Asap Santan

Tempatnya sangatlah sederhana. Hanya sebuah gerobak di depan rumah yang ada halaman yang bisa dipake untuk parkir mobil, ditambah sebuah meja yang hanya cukup untuk tiga orang dan beberapa bangku. Sang penjual pun terlihat biasa-biasa saja, hanya kakinya (maaf) pincang tapi murah senyum loh lumayan menyenangkan hati. Maklum kami berdua memang paling suka makan di warung-warung pinggir jalan. Ternyata sudah sebulan lamanya beliau jualan di situ setelah dipecat dari tempat kerjanya yang lama.

Ehm tanpa banyak basa-basi saya pun langsung memesan menu Ikan Asap Santan sementara suami memilih untuk mencoba nasi gorengnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyajikan menu pesanan saya dan ternyata seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya hanya ikan cakalang fufu (ikan tongkol yang diasapin) yang dimasak bersama santan. Setelah menyicipi ikan dan kuahnya, saya dan suami pun langsung sepakat, enak! Tak lama kemudian nasi goreng pesanan suami datang, betul-betul enak dengan bahan seadanya dan tanpa telur.

hanya muat untuk bertiga...

Tapi ternyata kebahagiaan kami tidak berlangsung lama. TIba-tiba ada sebuah mobil Taruna merah berbelok ke arah tempat kami makan dan berhenti dengan posisi kayak mau nabrak gerobaknya. Serentak kami dan beberapa orang calon pembeli pun kaget. Seorang bapak yang sudah tua turun dari mobil itu dan langsung memarahi sang penjual. Ternyata bapak itu yang punya rumah.

Bukan hanya sampai di situ, Bapak Tua itu memberi perintah kepada Sang Penjual untuk menyingkirkan gerobak serta meja yang kami pakai untuk makan. Dengan langkah yang pincang (karena bapak itu kakinya pincang) Sang Penjual langsung menyingkirkan gerobaknya berikut kompor, ember dan peralatan masak lainnya. Saya dan suami yang saat itu masih mengunyah makanannya langsung berdiri ikut menyingkir.

Perasaan saya campur aduk. Marah. Pengen teriak. Pengen nangis. Saya melihat suami tertunduk, wajahnya terlihat marah tapi tak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang di sekitar hanya diam dan melihat. Seketika saya seperti bisa merasakan apa yang dirasakan si penjual itu. Saya merasa terhina dengan perlakuan bapak tua itu!

digusur.... liat taruna?

Setelah berhasil menggusur kami, dengan santai Bapak Tua itu naik ke mobilnya dan segera memarkir mobil itu di tempat di mana kami tadinya makan. Memang benar tempat itu adalah miliknya, tapi bukankah Bapak Tua itu sudah tahu kalo gerobak itu mangkal di situ setiap malam? Kenapa pula seperti itu cara dia menggusur si penjual?

Sesombong itukah… sekejam itukah Bapak Tua itu pada manusia yang dengan keterbatasannya berusaha menghidupi keluarganya dengan berjualan di halaman rumah karena Si Penjual tidak sanggup berkeliling dengan kakinya yang pincang ? Kemana nuranimu wahai Bapak Tua? Sudah tak punya hatikah dirimu? Sudah tak punya imankah dirimu?

Setelah Sang Penjual menata kembali gerobak dan meja makannya, saya segera membayar. Masih tetap tersenyum Sang Penjual itu meminta maaf kepada saya dan suami karena acara makan kami terganggu. Saya hanya bisa jawab “gak apa-apa, pak”. Aaahh… betapa saya ingin melemparkan sisa makanan kami ke wajah Bapak Tua itu, tapi rasanya makanan kami terlalu berharga untuk dilemparkan ke wajahnya. Hati ini rasanya teriris-iris, sakit sekali melihat apa yang menimpa pada Sang Penjual.

tenang pak... sabar...

Aaarrrggghhh… tubuh ini masih gemetar. Tangan ini masih mendekap dada. Marah. Astagfirullah… Ya Allah… kuatkan hati kami. Jadikan kami orang-orang yang bersabar. Lapangkanlah pintu rejeki bagi Sang Penjual itu. Berikanlah kekuatan dan ketabahan baginya, amien…

NB : Gambar diambil suami pake kamera hape Nokia 5300 dengan tangan yang gemetaran, jadi harap maklum karena gambarnya kurang jelas. Baca juga tulisan suami yang sangat marah atas kejadian tersebut di sini.

20 comments

1 Gusti, Ajari Kami Memanusiakan Manusia { 07.18.08 at 2:52 pm }

[…] tanpa ba-bi-bu oleh si empunya lahan. Cerita lengkapnya mengenai kejadian itu ditulis bini saya di sini. Tai Kucing! Tags: hedonisme, kekayaan, kemiskinan, kuliner, materialistis, moderen, Sosial, […]

2 bangpay { 07.18.08 at 2:56 pm }

astaghfirullah…. besok kalo penjual itu masih ada, kita makan disana lagi ya, bun…. makasih sudah mau menemaniku makan di semua pinggiran jalan baik maluku utara, sulawesi dan jawa…

jangan kapok!

3 Janey { 07.18.08 at 5:59 pm }

Doooh.. kok kejam gitu siiih >..<

4 Janey { 07.18.08 at 5:59 pm }

Doooh.. kok kejam gitu siiih.. namanya aja Bapak Tua, tapi moral aja gak punya… saya jadi ikut emosii…

5 rerere { 07.19.08 at 3:56 am }

wow…
emang ga bisa ngomong baik2 dulu ya?

6 moerz { 07.19.08 at 4:19 am }

abisin dulu makanannya..
baru hajar…

7 Adis { 07.19.08 at 5:24 am }

Sebelum baca yang disini aku dah baca di blog bangpay, tapi cuman fast reading jadi gak tahu intinya..
Ternyata…..hiks mengharukan…
*terus terang saya lebih suka gaya tulisan mbak dari pada bang pay yang muter2 dulu dan njlimet banget buat saya yang IQ pas2an, tapi ssstttt jangan ngomong bang pay ya…nanti tambah marah lagi…*

8 bangpay { 07.19.08 at 5:34 am }

lho aku kan nulis hal yang berbeda dis? :)

9 BUNDANYA BONO { 07.19.08 at 9:02 am }

bangpay : Iya Ayah… ntar malem ke situ lagi yuks… tenang aja, Yah. Selama Bunda tidak dijadikan sebagai jaminan untuk membayar makanannya Bunda gak keberatan tuh!! Apalagi kalo gratis, gak nolak. Sumpah!

Janey : yang mbaca aja ikut emosi.. gimana kami yang melihat langsung. Live!! Jadi pelajaran bagi kita. Tapi kami belum kapok makan disitu (ya iyalah baru sekali, enak pula!)

Rerere : standard ngomong “baik-baik” bagi dia berbeda kali…

Moerz : Iya.. Ayahnya Bono ituw sempat ngabisin sepotong ikan sebelum berdiri dan menyingkir dari meja. Kalo soal hajar.. wah… kita cuman numpang cari nafkah di sini :)

Adis : Justru kalo lagi emosi dia bisa jadi ahli filsafat dadakan! bahasanya makin tinggi. dirikuh saja harus mbaca berulang kali karena mata sudah berat, ngantuk! tapi begitulah suamikuh… sosoknya seperti itu yang membuatku tertarik, tertantang dan terjatuh (wuih buahasanya!!!)
Gayaku menulis kan memang begini… justru syusyah kalo pake bahasa yang tinggi kayak bangpay. bisa2 malah gak ada yang ditulis :) Lagian yang ditulisnya itu bukan hanya satu hal tapi juga mencakup semua hal..

tenang aku gak ngomong kok. Ta’ suruh baca saja :)

10 Hedi { 07.19.08 at 11:36 am }

pasti bapak tua itu lagi dapet masalah, jadi dia emosian…dimaafin aja lah

11 Sluman slumun slamet { 07.19.08 at 1:45 pm }

Asu gedhe menang kerahe!

12 Janey { 07.19.08 at 2:49 pm }

mba tika.. punya waktu pe er sayah dikerjakan yaaah :D hueheheh…

13 yati { 07.20.08 at 10:37 am }

ya ampun…sadis bener…!!! pengen nimpuk. x-(

14 mahadewa { 07.20.08 at 3:12 pm }

komentar yang lain.

saatnya kita memendam amarah dan menyisihkan sebagian rejeki kita buat membantu mereka. Lha kalau kita ini hobinya sekedar marah saja, kan yo ndak bakalan membantu si penjual kan?

dimulai dari satu orang dulu, sampai sukses, karena kebanyakan kita membantu orang itu ndak fokus. semua dikasih, meski sedikit. lha kalau menurut saya si, yang lain dibantu seadanya, yang berpotensi didukung penuh. biar kalau nanti sukses, bisa membantu yang lain juga…

komentar yang sama di blog-nya bapak ya…

15 Menik { 07.20.08 at 3:36 pm }

Kenapa sih masih ada orang yg sedzalim ituh :(

Salam kenal Bun…

16 emfajar { 07.21.08 at 4:46 am }

wah kejam sekali :(

bisa dibikin kisah sinetron ini :D

17 zam { 07.21.08 at 12:15 pm }

jamput! saya jadi ikutan emosi bacanya..

moga-moga pak tua yg ngusir itu ndak bisa pipis 7 turunan!!

18 abdee { 07.22.08 at 5:16 pm }

Oalah…
udah tua kok ya bapak itu ndak bijak ya….
mbok bilang baik-baik ato gimana kalo keberatan…

untung saya ndak disana….
lain hari bisa tak timpuk batu… mobil tarunanya.

19 merahitam { 07.23.08 at 12:25 am }

Aku sudah baca postingan ini 3 kali. Dan selalu pengen nangis, marah dan kesel. Semoga bapak pedagangnya diberi rizki oleh Yang Maha Kuasa. Semoga bapak tua yang menggusurnya dilembutkan hatinya dan diberi rasa kasih yang berlimpah. Begitu juga aku, semoga gak jadi orang yang suka menganiaya orang lain. Amin.

Btw, gimana si Bono? Berapa bulan lagi Jeng? Semoga sehat-sehat terus ya.

20 Ray Rizaldy { 07.25.08 at 3:50 am }

tunggu sampe si penjual itu punya resto, keren, besar dan terkenal kelezatannya…
dy bisa jadikan cerita itu buat pecut sukses orang lain

tunggu sampe daku punya perusahaan media, aktual dan berintegritas. omzet puluhan juta..
*tapi belom punya cerita buat dibagiin, apa ya ceritanya?:(

Leave a Comment